Entri Populer

PC. Pemuda PERSIS Sukamantri. Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 08 Februari 2012
Hari Jum’at adalah hari yang istimewa bila dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya. Dalam sebuah hadits termaktub “Al-Jum’atu sayyidul ayyam”. yang artinya kurang lebih “hari Jum’at adalah raja dari hari-hari yang lainnya.”
Kespesialannya juga didapat dari penamaanya. Berbeda dengan hari-hari yang lainnya yang menggunakan nama dari deret hitung bahasa arab. Ahad untuk hari ke-satu, senin untuk hari ke-dua, selasa untuk hari ke-tiga, rabu untuk hari ke-empat, kamis untuk hari ke-lima, Jum’at untuk hari ke-enam dan sabtu untuk hari ke-tujuh.
Pada hari penghapusan dosa ini terdapat ritual Jum’atan, sebagai pengganti dari sholat dzuhur. Dalam Ceremonial mingguan ini terdapat  khutbah dari seorang khatib dan shalat dua raka’at.
Ada fakta menarik dari ritus khutbah khas hari Jum’at yang bisa dijadikan bahasan unik. Panorama khusus ini berupa tundukan kepala dan anggukan yang berulang-ulang. Hanya ada dua kemungkinan dari fenomena di atas. proposisi pertama adalah memperhatikan, sepakat dan mengerti. Proposisi kedua adalah mengantuk dan/atau tertidur pulas.
 Namun sejauh ini orang yang memperhatikan seorang komunikator selalu manatap wajah sang orator yang berorasi di mimbar. Jadi kemungkinannya sangat kecil. Dan kemungkinan terbesar adalah mengantuk atau bahkan tertidur.
Tak jarang fenomena tidur (Jum’at) siang di mesjid menjadi pemandangan yang lazim. Sehingga menjadikan Khutbah Jum’at tak jauh berbeda dengan Dongeng Sebelum Tidur yang banyak membuat komunikan tertidur dan bermimpi. Kiranya, layakkah khutbah Jum’at disebut sebagai Dongeng Sebelum Tidur? Lantas… siapa yang salah?
Tuhankah? Yang mengharuskan hambanya beribadah di siang hari bolong. Nenek moyangkah? Yang menciptakan kultur Dongeng Sebelum Tidur. Kitakah? Yang lalai. Khatibkah? Yang terlalu berlama-lama berda’wah sehingga mustami’ bosan dan jenuh. Sehingga tidur di mesjidpun menjadi hal yang wajar dan sering kali ditolerir.
Kita tak berhak menyalahkan siapapun, Justru kita dituntut untuk menyelesaikan masalah ini. Dan jalan penyelesainnya inilah yang harus segera ditemukan. Agar upacara sakral Jum’at yang nota bene sebagai media penghapusan dosa tidak sama dengan budaya Dongeng Sebelum Tidur di mesjid yang terlanjur disepakati masyarakat.
Sebagai penutup, Berikut beberapa tips yang dapat dicoba untuk khatib dan mustami’ ;
Ø  Terlebih dahulu tidur di rumah.
Ø  Perbanyak sholat intidhar.
Ø  Jangan duduk paling belakang. dan
Ø  Materi da’wah jangan terlalu panjang.

 
                                                                  artikel ini di tulis oleh Fahmi faneja dan Wawan Kuswana

1 komentar:

wawan kuswana mengatakan...

ini adalah budaya yang turun temurun dari sejakn jaman rosul,,, ini tantangan buat kita coba apa solusi dari kalian.

Pengikut

About Me

Foto Saya
pemuda persis sukamantri
Lihat profil lengkapku

IKLAN

Total Tayangan Halaman